Wahyu Bambang Pratama
(PBSI 3E)
Seni peran bak memiliki daya magis
di lingkungan Universitas PGRI Semarang. Tempat di mana banyak tumbuh para
sastrawan & akademisi sastra ini, tak pernah luput dalam mengadakan suatu pertunjukan seni peran,
salah satunya teater serta monolog. Bagaikan insan yang kehausan di padang berpasir,
sedikit demi sedikit para penikmat, pecinta, serta pengunyah seni peran pun
memadati kapasitas yang di sediakan.
Antusiasme para
apresiator pun takterelakkan. Senja yang
kala itu seperti tak dirasa oleh setiap khalayak yang menyaksikan pertunjukkan, senja
yang biasanya memiliki daya pikat seakan tak berdaya untuk membendung hasrat dan antusiasme para
apresiator.
Kesenian memang salah satu
media paling sederhana untuk menyatukan perbedaan karakter setiap insan. Salah
satunya contoh daya magis seni telah terjadi dan terbukti di tempat ini, di Universitas
PGRI Semarang.
Sedikit menelisik kisah klasik
yang kemarin sempat diceritakan dalam pertunjukan teater dan monolog,
mengenai kisah Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah. Kisah yang
dalam dunia nyata diacuhkan begitu saja, pada pertunjukan beberapa hari yang
lalu sengaja diangkat sebagai tema.
Pertunjukan Kisah Jaka Tarub seakan masih semu dibenak
para penikmat kala itu, mengisahkan perjalanan hidup seorang lelaki bujangan yang
dalam istilah jawa sering disebut dengan sebutan “Jaka/Pejaka”.
Berawal dari sepenggal mimpi disiang hari yang dalam mimpi tersebut,
tidak disangka Jaka Tarub dapat meminang gadis secantik bidadari setelah sekian lama
status pejaka membelenggunya.
Apabila membandingkan dengan kehidupan nyata,
mustahil memang jika ada seorang manusia mampu menikah dengan seorang bidadari.
Jaka Tarub dan Nawang Wulan memang berhasil dalam menyampaikan kisah dari jalan cerita tersebut.
Namun dalam beberapa aspek masih banyak hal yang
luput akan perhatian panitia serta pemeran.
Memang uang
10.000 rupiah tidak lah terlalu berat bagi kelangsungan hidup keuangan mahasiswa.
Namun menyoroti akan aspek tersebut,
panitia masih abai terhadap keamanan & kenyamanan apresiator saat memasuki ruang pertunjukan,
berdesak-desakan, waktu memulai pertunjukan yang tidak tepat, membawa para apresiator memasuki tingkat kejenuhan
yang teramat luarbiasa, karena panas serta waktu tunggu yang relatif sangat lama.
Mengulik dari beberapa adegan
yang sukses diperankan, tak sedikit dari para
apresiator termasuk saya sendiri mendadak bingung karena backdrop yang seharusnya menggambarkan latar waktu sianghari,
masih jelas terlihat menggambarkan latar waktu malam hari. Jikalau diingat pada adegan Jaka Tarub bermimpi saat tidurdisiang hari dan pada beberapa adegan seperti ketika Jaka Tarub pergi berburu kemudian melihat
para bidadari turun dari kayangan lalu mandi di air terjun, backdrop
masih menggambarkan latar waktu yang sama, yaitu malam hari.
Seakan penonton dibuat bungkam karena kebingungan,
mengingat latar waktu tidak sesuai dengan dialog dan gestur yang
sedang diperagakan oleh para pemeran. Namun ada beberapa aspek yang membuat saya kagum,
pada saat adegan para bidadari turun dari kayangan, ada salah seorang bidadari yang
terjatuh dari tangga backdrop, luar biasanya keenam bidadari yang lain
dengan cekatannya berimprovisasi dengan cara membantu dan menambahkan beberapa dialog
agar bisa disambung oleh salah seorang bidadari yang terjatuh tersebut.
Adanya beberapa tamu undangan termasuk di antaranya rombongan siswa &
guru dari SMA Negeri 1 Gringsing,
Kabupaten Batang semakin menasbihkan bagaimana teater Universitas PGRI Semarang
layak dan pantas menyandang predikat sebagai cermin sekaligus kiblat dunia seni peran oleh institusi pendidikan
di Jawa Tengah.
Terlepas dari apa
yang telah saya utarakan mengenai Pentas Jaka Tarub.
Sekaligus saya akan sedikit mengulik mengenai Monolog Balada Sumarah, yang
pemeran serta sutradaranya merupakan salah satu putra-putri terbaik Universitas PGRI
Semarang.
Kali
ini sastra dengan gagah berani mencoba menjauh tuk bercerita tentang Tuhan atau pun tentang bulan,
namun kali ini sastra dengan berani bercerita tentang perlawanan. Ya, benar,
perlawanan. Bagaimana seorang anak manusia
yang menderita, karena pembersihan PKI oleh pemerintah pada beberapa tahun silam.
Depresi dan rasa tidak percaya terhadap realita dipertontonkan oleh pemeran Sumarah dengan sangat alami,
terlebih ketika pemeran mengubah gesturnya dari seorang Sumarah berubah menjadi seorang
guru, teman satu kelas, dan beberapa orang yang telah mengucilkan Sumarah.
Hingga alur cerita memasuki penggambaran ketika Sumarah dewasa dan menentang setiap mereka
yang berani mencaci maki dia karena masa lalu orang tua. Kejamnya tanah rantau yang
menjadi peraduan Sumarah, juga dengan rinci dapat diperakan dengan alami dan jelas.
Tata panggung yang
berlatar hitam dengan pencahayaan yang sederhana namun mengena, semakin cepat membawa
para apresiator berimajinasi dan ikut andil dalam jalannya cerita. Yang
jelas memang terlihat kontras, antara teater pengkisahan JakaTarub dan Monolog Balada Sumarah,
dimana Monolog
Balada Sumarah terlihat lebih siap untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai.
Sungguh miris.
Seni peran pada abad millennium ini terlihat semakin termarjinalkan.
Bukan panggung berskala Nasional, namun panggung-panggung perlombaan yang
harus berperang dalam menyelamatkan seni peran yang diambang kehancuran.
Komentar
Posting Komentar