Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2016
Menelisik Pentas Jaka Tarub & Pentas Monolog Balada S umarah di Universitas PGRI Semarang Wahyu Bambang Pratama (PBSI 3E) Seni peran bak memiliki daya magis di lingkungan Universitas PGRI Semarang. Tempat di mana banyak tumbuh para sastrawan & akademisi sastra ini, tak pernah luput dalam mengadakan suatu pertunjukan seni peran, salah satunya teater serta monolog. Bagaikan insan yang kehausan di padang berpasir, sedikit demi sedikit para penikmat, pecinta, serta pengunyah seni peran pun memadati kapasitas yang di sediakan. Antusiasme para apresiator pun takterelakkan. Senja yang kala itu seperti tak dirasa oleh setiap khalayak yang menyaksikan pertunjukkan, senja yang biasanya memiliki daya pikat seakan tak berdaya untuk membendung hasrat dan antusiasme para apresiator. Kesenian memang salah satu media paling sederhana untuk menyatukan perbedaan karakter setiap insan. Salah satunya contoh daya magis seni telah terjadi dan terbukti di tempat ini, di Universit...
Esai Setia Naka Andrian berjudul Membangun Kota dengan Seni (Tribun Jateng, 10 September 2016) cukup menarik untuk ditelisik. Jika kita mengingat kembali ke puluhan bahkan ratusan abad silam, kemajuan peradaban suatu bangsa sudah dapat disimpulkan hanya dengan menengok pada aspek tata kota, arsitektur gedung pemerintahan, arsitektur tempat peribatan, maupun kebiasaan yang sehari-harinya dilakukan oleh masyarakat, di mana semua aspek tersebut tidak lah jauh dari unsur yang mengandung seni. Dari masa kemasan, seni dan pembangunan senantiasa serasi serta sinegis. Dengan fakta yang telah terjadi di berbagai belahan dunia pada abad millennium ini. Baik dalam aspek arsitektur bangunan serta kebiasaan masyarakatnya yang sampai saat ini masih dianggap “seni” oleh para petinggi negeri. Apabila menyimak salah satu celotehan Setia, “seniman kita, seakan begitu abai dengan kota yang melahirkan dirinya (paragraf 4).” Setia terkesan menghidupakan kembali jalan pikiran para seniman di pelosok-pelo...