Postingan

Gambar
SEMARAK KARTINI UPGRIS TAHUN 2017 Semarang - Perlahan namun pasti Universitas PGRI Semarang menunjukkan jatidirinya sebagai perguruan tinggi yang kaya akan agenda yang berkaitan erat dengan Bahasa dan Sastra serta Budaya. Salah satu fakultas yang seringkali memiliki program tahunan yang menyangkut ketiga aspek tersebut adalah Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Fakultas yang mencakup tiga Program Studi ini setiap tahun rutin mengadakan acara Semarak Kartini ini. Dan, pada tahun 2017 ini panitia Semarak Kartini UPGRIS yang tidak lain adalah BEM FPBS mengambil tema kegiatan yaitu Perempuan Berkarya. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 1000 mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Ibu Wakil Walikota Semarang, Putri Jawa Tengah 2016/2017, dan Pejabat struktural dan non -struktural di lingkungan Universitas PGRI Semarang. Acara yang diawali dengan hiburan, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini, pengenalan 21 besar Putri Kartini 2017, Talksh...
Menelisik Pentas Jaka Tarub & Pentas Monolog Balada S umarah di Universitas PGRI Semarang Wahyu Bambang Pratama (PBSI 3E) Seni peran bak memiliki daya magis di lingkungan Universitas PGRI Semarang. Tempat di mana banyak tumbuh para sastrawan & akademisi sastra ini, tak pernah luput dalam mengadakan suatu pertunjukan seni peran, salah satunya teater serta monolog. Bagaikan insan yang kehausan di padang berpasir, sedikit demi sedikit para penikmat, pecinta, serta pengunyah seni peran pun memadati kapasitas yang di sediakan. Antusiasme para apresiator pun takterelakkan. Senja yang kala itu seperti tak dirasa oleh setiap khalayak yang menyaksikan pertunjukkan, senja yang biasanya memiliki daya pikat seakan tak berdaya untuk membendung hasrat dan antusiasme para apresiator. Kesenian memang salah satu media paling sederhana untuk menyatukan perbedaan karakter setiap insan. Salah satunya contoh daya magis seni telah terjadi dan terbukti di tempat ini, di Universit...
Esai Setia Naka Andrian berjudul Membangun Kota dengan Seni (Tribun Jateng, 10 September 2016) cukup menarik untuk ditelisik. Jika kita mengingat kembali ke puluhan bahkan ratusan abad silam, kemajuan peradaban suatu bangsa sudah dapat disimpulkan hanya dengan menengok pada aspek tata kota, arsitektur gedung pemerintahan, arsitektur tempat peribatan, maupun kebiasaan yang sehari-harinya dilakukan oleh masyarakat, di mana semua aspek tersebut tidak lah jauh dari unsur yang mengandung seni. Dari masa kemasan, seni dan pembangunan senantiasa serasi serta sinegis. Dengan fakta yang telah terjadi di berbagai belahan dunia pada abad millennium ini. Baik dalam aspek arsitektur bangunan serta kebiasaan masyarakatnya yang sampai saat ini masih dianggap “seni” oleh para petinggi negeri. Apabila menyimak salah satu celotehan Setia, “seniman kita, seakan begitu abai dengan kota yang melahirkan dirinya (paragraf 4).” Setia terkesan menghidupakan kembali jalan pikiran para seniman di pelosok-pelo...