Esai Setia Naka Andrian berjudul Membangun Kota dengan Seni (Tribun Jateng, 10 September 2016) cukup menarik untuk ditelisik. Jika kita mengingat kembali ke puluhan bahkan ratusan abad silam, kemajuan peradaban suatu bangsa sudah dapat disimpulkan hanya dengan menengok pada aspek tata kota, arsitektur gedung pemerintahan, arsitektur tempat peribatan, maupun kebiasaan yang sehari-harinya dilakukan oleh masyarakat, di mana semua aspek tersebut tidak lah jauh dari unsur yang mengandung seni.
Dari masa kemasan, seni dan pembangunan senantiasa serasi serta sinegis. Dengan fakta yang telah terjadi di berbagai belahan dunia pada abad millennium ini. Baik dalam aspek arsitektur bangunan serta kebiasaan masyarakatnya yang sampai saat ini masih dianggap “seni” oleh para petinggi negeri.
Apabila menyimak salah satu celotehan Setia, “seniman kita, seakan begitu abai dengan kota yang melahirkan dirinya (paragraf 4).” Setia terkesan menghidupakan kembali jalan pikiran para seniman di pelosok-pelosok negeri. Bagaimana tidak, seni yang harusnya dapat menjadi nyawa suatu daerah/kota keberadaannya masih dianggap sebagai asesoris pada tiap selebrasi di daerah/kota.
Selain di Kendal, jika menelisik beberapa upaya seniman dalam memajukan kotanya lewat seni, salah satunya dapat dilihat pada suatu daerah di kawasan pantai utara Jawa yaitu Kabupaten Batang. Bagaimana dalam beberapa tahun terakhir saja, setiap kampong selalu haus akan suatu pagelaran seni.
Diadakannya kirab budaya pada setiap tahun dibulan Agustus, dengan melibatkan hampir ¾ penduduk kampung, mematikan kebisingan mesin di jalur pantai utara, serta menyedot jutaan pasang mata yang sengaja datang dari kampung lain bahkan luar kota. Dimana pada kirab budaya tersebut terdapat banyak kesenian lokal yang ditampilkan (cowong, sintren, wayang) yang di dalamnya tak lupa disuntikkan norma serta nilai-nilai luhur yang ada di Nusantara. Kirab yang sekilas serupa dengan Banyuwangi Festival atau pun Dieng Culture Festival namun sedikit lebih sederhana, mengingat acara tersebut masih dikelola sendiri oleh masyarakat dan perangkat desa.
Mungkin keberanian dan semangat dari para pelaku seni lah yang kiranya dapat sedikit membuka nurani para petinggi. Seni harusnya menjadi lading pariwisata, dan ikut andil dalam meraup nominal pemasukan anggaran kota.
Turunkan ego masing-masing, dan suarakan hak-hak para seniman lewat tulisan dan media massa. Akan menjadi suatu pondasi awal bagi kemajuan kota apabila rintihan para seniman dapat dengarkan, eksistensi pemimpin akan berlabel ‘percuma’ apabila masih mengabaikan hak-hak sebagian masyarakatnya. Karena kemajuan kota tidak lah hanya bergantung pada pembangunan semata, melalui beberapa hal sederhana seperti membuka pagelaran-pagelaran seni di tanah lapang, gedung pertunjukan, atau pun di jalanan sekalipun, akan banyak mendongkrak kemajuan di sektor pariwisata dan perekonomian kota,

Komentar

Postingan populer dari blog ini